Apakah Email Marketing Masih Efektif di Era AI dan Digital Presence?

Di tengah perkembangan AI, media sosial, dan berbagai kanal digital yang semakin mudah digunakan, email marketing mungkin terlihat seperti strategi lama. Brand kini berlomba membangun digital presence melalui Instagram, TikTok, WhatsApp, hingga platform berbasis AI.

Namun, apakah efektifitas email marketingmasih relevan di tengah perubahan perilaku konsumen? Jawabannya masih relevan, tetapi perannya telah berkembang.
Email Marketing Tidak Lagi Sekadar Mengirimkan Promo
Dulu, email marketing sering dikaitkan dengan newsletter, katalog produk, atau promosi massal. Kini, email dapat menjadi bagian dari strategi customer relationship yang lebih luas.
Ketika pelanggan memberikan alamat email kepada sebuah brand, perusahaan memiliki kesempatan untuk membangun komunikasi secara langsung tanpa sepenuhnya bergantung pada algoritma platform digital.
Hal ini semakin relevan ketika perhatian konsumen di media sosial terfragmentasi. Di antara ribuan konten dan brand yang bersaing mendapatkan perhatian, email memberikan ruang komunikasi yang lebih personal dan terarah.
AI Mengubah Cara Email Marketing Bekerja
Kehadiran AI tidak serta-merta membuat email marketing kehilangan relevansinya. Sebaliknya, AI dapat membantu brand memahami pelanggan dan membuat komunikasi menjadi lebih relevan.
Dengan dukungan data pelanggan, brand dapat menyesuaikan komunikasi berdasarkan kebutuhan, perilaku, dan tahap hubungan pelanggan.
Pelanggan baru, misalnya, tidak harus menerima komunikasi yang sama dengan pelanggan yang sudah berulang kali melakukan pembelian. Perbedaan konteks inilah yang dapat membuat komunikasi lebih relevan.
Karena itu, tantangannya bukan lagi seberapa banyak email yang dapat dikirim, tetapi seberapa relevan pesan yang diterima pelanggan.
Jadi, Apakah Email Marketing Masih Efektif?
Brand Besar Masih Menggunakan Email Marketing
Email juga belum kehilangan tempat dalam strategi komunikasi brand besar. Di Indonesia, konsumen masih menerima komunikasi email dari berbagai perusahaan seperti BCA, Traveloka, tiket.com, dan Levi’s.
Bagi brand dengan basis pelanggan yang besar, email dapat menjadi salah satu kanal untuk menjaga komunikasi setelah pelanggan mengenal brand atau melakukan transaksi.
Hal ini juga menunjukkan bahwa media sosial dan email tidak harus diposisikan sebagai dua kanal yang saling menggantikan. Masing-masing memiliki peran berbeda dalam customer journey.
Data Menunjukkan Email Marketing Masih Relevan di Indonesia

Data benchmark GetResponse menunjukkan bahwa Indonesia mencatat open rate email sebesar 21,67%, click-through rate 1,12%, dan click-to-open rate 5,17% dalam benchmark yang dipublikasikan untuk 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa email masih mendapatkan engagement dari penerima di pasar Indonesia.

Pertumbuhan penggunaan email juga terlihat dari data yang dibagikan MailTarget kepada Campaign Indonesia. Dalam satu tahun, jumlah email yang dikirim melalui platform tersebut meningkat 50% hingga mencapai miliaran email, sementara revenue layanan email marketing tumbuh sekitar 20–30% YoY. Pertumbuhan ini disebut didorong oleh meningkatnya penggunaan di sektor finansial, retail, dan teknologi.
Penelitian terhadap 145 perusahaan di Indonesia juga menemukan hubungan signifikan antara email marketing dan conversion rate. Studi tersebut menempatkan email marketing sebagai salah satu kanal yang memiliki peran berbeda dari media sosial, yang lebih kuat pada customer engagement.
Data tersebut tidak berarti setiap kampanye email pasti menghasilkan conversion. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa email masih memiliki fungsi yang relevan dalam strategi pemasaran multi-channel.
Relevansi Menjadi Kunci Efektifitas Email Marketing
Konsumen saat ini memiliki semakin banyak pilihan dan semakin sedikit toleransi terhadap komunikasi yang tidak relevan.
Email yang hanya berisi promosi massal berisiko kehilangan perhatian pelanggan. Sebaliknya, komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks pelanggan dapat membantu brand membangun engagement dan menjaga customer retention.
Karena itu, efektifitas email marketing tidak hanya ditentukan oleh jumlah email yang dikirim atau seberapa sering brand berkomunikasi. Yang lebih penting adalah apakah pesan tersebut memberikan alasan bagi pelanggan untuk membuka, membaca, dan meresponsnya.
Email Marketing di Era AI: Mati atau Berkembang?
AI memungkinkan brand mengelola email dengan lebih cepat, personal, dan scalable. Namun, penggunaan teknologi tidak serta-merta membuat komunikasi menjadi relevan bagi pelanggan. Email marketing tetap membutuhkan pendekatan yang personalized dan segmented, berdasarkan karakteristik, kebutuhan, serta waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan pelanggan.
Kesimpulannya, tidak ada satu kanal yang paling unggul untuk semua tujuan bisnis. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap kanal digunakan secara strategis dan saling melengkapi, dengan email marketing sebagai bagian dari strategi customer relationship yang lebih luas dan relevan.

